Kemarin aku pintar aku ingin mengubah dunia – Puisi Rumi

Kemarin aku pintar aku ingin mengubah dunia – Puisi Rumi

Kemarin aku pintar aku ingin mengubah dunia – Puisi Rumi

Sering kali kita merasa dunia ini penuh dengan ketidakadilan, kekacauan, dan masalah yang tidak ada habisnya. Kita ingin dunia berubah, kita ingin orang-orang menjadi lebih baik, kita ingin keadaan membaik sesuai harapan kita. Namun, Jalaluddin Rumi pernah berkata,

Kemarin aku pintar, aku ingin mengubah dunia. Sekarang aku bijak, maka dari itu aku mengubah diriku sendiri.”

Quote ini mengajarkan kepada kita bahwa perubahan sejati tidak dimulai dari luar, tetapi dari dalam diri kita sendiri. Semakin kita berusaha mengubah dunia tanpa mengubah diri sendiri, semakin besar rasa frustrasi yang akan kita rasakan. Sebaliknya, ketika kita mulai memperbaiki diri, dunia di sekitar kita pun ikut berubah.

Perubahan Dimulai dari Dalam

Dalam Islam, konsep perubahan diri ini juga sangat ditekankan. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini menegaskan bahwa jika kita ingin dunia menjadi lebih baik, maka kita harus terlebih dahulu melakukan perubahan dalam diri sendiri. Banyak orang ingin dunia damai, tetapi hatinya masih dipenuhi amarah. Banyak orang ingin orang lain jujur, tetapi masih sering berdusta. Inilah sebabnya mengapa perubahan diri jauh lebih penting daripada sekadar mengkritik dunia luar.

Membangun Kesadaran Spiritual

Rumi bukan hanya berbicara tentang perubahan diri dalam arti moral, tetapi juga dalam hal kesadaran spiritual. Saat kita masih terjebak dalam ego dan keinginan duniawi, kita berpikir bahwa kebahagiaan terletak pada mengubah dunia sesuai dengan keinginan kita. Tetapi ketika kita semakin dekat dengan Allah, kita menyadari bahwa kebahagiaan sejati bukanlah mengendalikan dunia, tetapi mengendalikan diri sendiri.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Orang yang paling kuat bukanlah yang menang dalam perkelahian, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari & Muslim)

Hadits ini mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada kemampuan kita mempengaruhi orang lain, tetapi dalam kemampuan kita mengendalikan diri sendiri. Saat kita mampu mengendalikan amarah, hawa nafsu, dan kesombongan, kita telah memenangkan pertarungan terbesar dalam hidup ini.

Menjadi Cahaya bagi Dunia

Ketika kita fokus pada perubahan diri, sesuatu yang menakjubkan terjadi—dunia di sekitar kita juga ikut berubah. Orang-orang yang melihat ketenangan dan kebijaksanaan kita akan terinspirasi untuk ikut berubah. Ini seperti lilin yang dinyalakan di tengah kegelapan; cahayanya akan menerangi sekelilingnya tanpa perlu memaksa.

Jika kita ingin dunia lebih damai, mulailah dengan menjadikan hati kita damai. Jika kita ingin orang-orang lebih jujur, mulailah dengan menjadi pribadi yang jujur. Ketika kita berubah, energi kita akan mempengaruhi orang lain tanpa kita sadari.

Kesimpulan

Perubahan yang paling besar dalam hidup ini bukanlah mengubah dunia, tetapi mengubah diri sendiri. Ketika kita menjadi pribadi yang lebih baik, dunia di sekitar kita pun ikut membaik. Seperti yang dikatakan Rumi, kebijaksanaan sejati terletak pada kemampuan kita mengubah diri sendiri, bukan memaksa dunia untuk berubah. Dengan mendekatkan diri kepada Allah, kita akan menemukan ketenangan, kebijaksanaan, dan cahaya yang menerangi dunia di sekitar kita.

Semoga kita semua bisa menjadi pribadi yang lebih baik setiap hari dan memiliki vibrasi hati yang positif. Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *